Catatan,
@boedidewantoro
"Terpaksa masuk surga, itu lebih enak, daripada ikhlas tapi masuk neraka". Itulah jawaban berkelakar Ust. Jazir ASP, setelah dikritik, "Gimana kalau nanti orang rajin shalat di masjid hanya karena mencari hadiah ?” Kritik itu dilontarkan gegara masjid memberikan _doorprize_ bagi mereka yang rajin shalat lima waktu. Berupa : televisi, kulkas, bahkan ada empat tiket umroh. Masjid memasang _finger print_, selama empat bulan untuk pendataan. Sebelum shalat, jamaah diminta presensi dulu. Tahun 2003, salah satu jamaah terkena serangan stroke di masjid, kemudian dilarikan ke rumah sakit, dan dibayarkan biaya operasi sebesar Rp. 25 juta. Masjid kini memiliki program advokasi bagi warga miskin dengan asuransi kesehatan. Masjid Jogokariyan tiap bulannya menghimpun rerata tiga ton beras. Ada 360 keluarga miskin yang mendapat santunan beras tiap 15 hari, dengan diantar langsung ke rumah masing-masing. "Saya melarang betul cara masjid memberi santunan dengan meminta datang mengantre di masjid. Itu memalukan ! Muslim harus diharhagai, jangan dihinakan." Begitu kata Ust. Jazir ASP.
Ada 28 rumah warga yang dibuatkan WC dan kamar mandi, "Tengok juga kamar tidurnya, kamar tamu, jika tidak layak, kita perbaiki dan belikan sekalian perabotnya". Masjid melakukan pendataan tentang kondisi sosial ekonomi warga. Siapa saja warga yang sudah shalat dan siapa yang belum. Pengurus masjid mengirim ustadz untuk mengajar ke rumah rumah. Tahun 2000, yang belum bisa shalat 816 warga, tahun 2005 tinggal 315, tahun 2009 tinggal 27, tahun 2011 tinggal 4. Jadi, semula yang tidak shalat menjadi shalat.
Masjid selain membantu warga miskin dengan menyantuni kebutuhan pokok, juga memberi pinjaman modal, hingga pemberdayaan usaha. Setiap Ramadan, masjid menyediakan 2.500 porsi berbuka puasa, "Hal ini sangat membantu bagi warga miskin. Lebih dari 13 tahun, H-1 Ramadan, masjid memberikan subsidi sahur berupa beras, gula-teh, minyak goreng, dan uang lauk pauk. Disamping itu masjid menyediakan 600 porsi per hari untuk sahur di masjid". Begitu penjelasan Ust. Jazir ASP. Masjid Jogokariyan memiliki BUMM (Badan Usaha Milik Masjid). Seperti dengan mengelola "hotel masjid" (sekelas hotel bintang tiga), ada AC, air panas-dingin, akses internet dan televisi.
Gagasan ini bermula dari rasa iba, banyak musafir dari luar Jogja ingin bermalam, tapi mereka tidurnya hanya di hamparan karpet masjid. "Hotel masjid" berada di lantai tiga samping masjid, disediakan bagi siapa saja, mengingat Jogja adalah Kota Pariwisata. Dimata Ust. Jazir ASP, pengurus masjid tidak boleh mata duitan, kikir, bermental miskin, maunya uang kas disimpan saja. Dipilihnya menjadi ketua, bendahara atau pengurus, harus bermental kaya, suka memberi. "Menjadi pimpinan Takmir Masjid harus siap, tidak hanya menjadi ujung tombak, tapi juga menjadi "ujung _tombok_", kata beliau. Dan hal itu sudah dipraktekkan beliau selama memimpin Masjid Jogokariyan.
Di masyarakat, banyak orang kepingin menjadi ketua takmir, mereka yang berambisi jadi ketua, biasanya hanya demi jabatan, supaya kelihatan terhormat dan tambah keren. Orang model begini seringnya tidak mampu bekerja. Karena tidak memiliki visi kemasjidan, tidak mau berkorban, dengan tenaga, waktu, pikiran, apalagi dengan hartanya, sebagai "ujung _tombok_". Para remaja jangan diajari bagaimana minta sumbangan, "itu akan melahirkan kader pengemis" kata beliau. "Kelak jika menjadi anggota Dewan atau Pejabat dia akan minta proyek ke pemerintah. Para koruptor dididik di organisasi seperti ini." Remaja masjid harus dilatih untuk membuat proposal _sponshorship_, bekerja sama, bermitra, bernegosiasi, untuk saling menguntungkan.
Berbagai _event_ di masjid, bisa dijadikan latihan untuk menjadi EO atau membangun jaringan usaha. "Kampung Ramadan Jogokariyan", sedikitnya ada 640 pedagang yang berpartisipasi, omzetnya mencapai 5 M sebulan, yang ini bisa memberi keuntungan bagi warga. "Masjid harus mandiri, menggembirakan dan melindungi jamaah. Orang datang ke masjid harus merasa nyaman dan aman". Di masjid Jogokariyan, "Barang siapa kedapatan jamaah yang kehilangan sandal, sepatu atau motor, akan diganti baru, dengan merk dan tahun yang sama". Ide ide Ust Jazir ASP bukannya mulus tanpa hambatan, terkadang ada saja yang menentangnya. Gagasan bahwa masjid harus memberi manfaat yang luas kepada jamaah, beliau membuat kebijakan, "Masjid harus selalu terbuka, kalau perlu lampu menyala terang 24 jam".
Pernah kebijakan ini "disabotase", pada suatu malam, ada orang yang mematikan lampu masjid. "Biarkan saja dulu, yang mematikan lampu tadi orang tua, tapi kemudian lampu saya hidupkan kembali". Kata Ust. Jazir ASP. Dan ternyata, sejak kebijakan lampu terang terus, menyebabkan uang infaq masjid semakin bertambah, yang akhirnya bisa berlebih untuk membayar uang listrik. Akhirnya jamaah menjadi paham. Program yang baik, masih ada saja yang menolak. Biasanya mereka adalah orang yang takut kalau diminta ikut memikul resiko, mereka takut ditarik iuran. Hal ini masih logis, yang tidak logis adalah, ada saja para _haters_, mereka menolak program masjid karena sentimen. _Like or dislike._ Tapi dakwah harus jalan terus, jangan pedulikan orang orang hasut menghambat dakwah. Pada suatu hari, saya mendapat hadiah buku berjudul, MANIFESTO MASJID NABI, lewat gosend dari sahabat, Mas Yusuf Maulana. Seorang editor buku papan atas. Beliau adalah editor ahli, merancang _lay out_ hingga mendisain _cover_ dari buku buku yang saya tulis.
Entah mengapa saya mendapat hadiah buku, bertepatan dengan sepekan menjelang Ust. Muhammad Jazir ASP dipanggil Allah Yang Maha _Rahman_ dan _Rahiem._ Dari buku itu saya berkesempatan membaca biografi dan sepak terjang dakwah _Allahuyarham_ sejak muda belia. Bahwa seluruh hidupnya didedikasikan untuk dakwah, bahkan ketika lama menderita sakit, hingga pada detik detik akhir hayatnya.
Termasuk pergulatan bagaimana membangun masjid Jogokariyan, yang awalnya berada di lingkungan kultur Jawa "Abangan" (Clifford Geertz), yang akhirnya menginspirasi tidak hanya di Nusantara, tapi juga masjid di Eropa, Asia dan Amerika. Saat _takziyah_ di Masjid Jogokariyan, saya berkesempatan menunaikan shalat jenazah, bersama ribuan jamaah yang penuh sesak di lantai atas dan bawah, di setiap jengkal masjid. Setelah dishalatkan, kami berjubel di sepanjang perjalanan bersama ribuan pelayat, mengantar _Allahuyarham_ ke pembaringan terakhir, di Pemakaman Karangkajen Jogja.
Buku “MANIFESTO MASJID NABI, Rumah Allah yang Memihak Rakyat”.
Sumber tulisan : Muhammad Jazir ASP.
Penyunting : Yusuf Maulana.
Penerbit : Artistan Publishing House Yogyakarta.
Cetakan : Pertama, 2024.
Tebal : 248 halaman.
Saya rekomendasikan, buku ini harus dibaca oleh para pengurus masjid dan para pecinta dakwah, perlu dibedah dan didiskusikan, agar kita mendapat pencerahan tentang kemasjidan.
Agar masjid berdaya, menjadi madrasah umat, tempat dimana ajaran Islam disemaikan, dan orang orang beriman dipersaudarakan.k.